Berbicaralah dikau, jangan diam seribu karang
Berbicarakan dikau, jangan memandang mata telanjang.
Mengapa mesti aku terus bicara, habis sudah berkata-kata
Sementara kamu hanya terpaku memainkan jilbabmu
Bidadari, berapa pagi sudah menjemput gundah gulanamu
Aku tak ngerti hati wanita apalagi tengah mencintai
Seperti langitpun dirangkulnya tenaga habis terkuras
Membiarkan jiwa hancur raga lebur demi rindu yang dipikulnya
Apa artinya pagi dan sore aku menyapamu
Kau cuma menatap, lalu hilang
Ketika kini, suara malam mengajakmu berteman
Kamu tak lagi seperti dulu, kamu kini berubah arah
Menjauhkan diri dari sebuah kehidupan daun-daun jati
Yang menjagamu dan sedia diterpa angin setiap waktu
Senja yang membantu lepas dari kekejaman ini
Kenapa kini menyiksa dan menindasku
Tak seperti dulu, ketika bunga-bunga kemuning seputih salju
Menerbarkan wangi dan kitapun berseru:
“I love you, I love you,”
Tetapi kini mengapa kau biarkan aku menunggu begini
Jakarta, 2009