Kata-kata hanyalah tipuan membuat kita tak berdaya
Kata-kata semu belaka, seperti Je t’aime, membuat kita mabuk kepayang.
Kata-kata lebih kejam dari pembunuhan, selain menindas juga menyiksa
Seperti pasukan Jepang mengintrogasi nenek moyang
Kata-kata hanyalah dendam manusia atas takdirnya
Lihatlah berapa kata yang kita ukir bersama, akhirnya hanyalah penyesalan
Oh kenapa kata-kata dengan susah payah kita puja namun rela terima balasannya
Cinta hancur rindu tercerai berai dan kitapun terpental jauh dari pantai.
Hidup tanpa kata-kata lebih baik selama kita bisa saling menjaga dan menerima
Aku kubur kata-kata dengan derai air mata, Selamat tinggal NE
Di tempatmu yang baru jauh dari kata-kata kecuali amal, ibadah dan cinta abadi
Tinggalkan semua kata yang pernah kita raih meski sekarang menjadi bukit
Hari panjang tak seperti biasanya membosankan tapi oksigen kita beri orang lain kehidupan
Hari ini kata-kata menjadi kristal-kristal keabadian berdiam dalam sanubari
Aku rela menampung kesedihan dan kucuran darah yang telah kau tumpahkan
Karena aku lahir dari api, siap hidup dengan api, dan akan mati jadi api,
sedang kata-kata hanyalah jadi abu
Solo, 2009